fbpx

Mengunjungi Bakery - Bakery Trend di Singapura

Singapura.Sebuah negeri yang wilayahnya hanya seluas Jakarta, dengan penduduk yang datang dari beragam suku bangsa, menghadirkan warna tersendiri pada negeri itu. Di banyak fasilitas umum, kita bisa menjumpai petunjuk yang menggunakan Bahasa Mandarin, India, Melayu, dan Inggris.
     Tradisi kuliner yang berkembang di sini pun dilatari asal-usul kelompok-kelompok masyarakatnya.
Hingga di sini kita bisa dengan mudah menemukan kafe, resto, maupun kedai makanan dan minuman yang menghadirkan makanan maupun minuman ala Eropa, Melayu, India, China, Jepang, Korea, dan beberapa kawasan lainnya.
      Bakery-bakery yang bermunculan di sinipun membawa nuansa tradisional berbagai negara yang komunitasnya ada di Singapura.
     Di sini, kami menyaksikan beberapa bakery yang mengusung pesona tradisi kuliner dari negara tertentu. Tak hanya itu. Kami juga mendapati fenomena bahwa bakery-bakery di sini berlomba menawarkan keunikan dan beragam nilai lainnya demi menyerap lebih banyak pelanggan. Baik yang berkaitan dengan variasi dan kualitas produk, tampilan gerai, maupun model pelayanannya.
     Mereka berusaha tampil unik, trendy, dan, tentu saja, menarik.

Ala Jepang
Tepat pukul 10 pagi, kami tiba di gerbang Mal ION Orchad. Walaupun masih terbilang pagi, mal sudah cukup ramai pengunjung. Mungkin karena letaknya strategis: di samping Stasiun MRT (Mass Rapid Transit) Orchad.
    Kami memulai penjelajahan dari lantai Basement  4, di mana terdapat food court. Di sini, outlet, cafe ataupun resto terlihat berbaris dari ujung ke ujung, menarik sekali. Hingga  mata kami tertuju pada sebuah kafe: Provence Bakery.
     Provence Bakery menawarkan roti  dengan varian yang tak sebanyak bakery lain pada umumnya. Beberapa pengunjungnya terlihat dengan santai menyantap roti untuk sarapan paginya, ditemani secangkir teh ataupun minuman cokelat.
     Kami singgah di bakery ini dan bertemu Managing Director-nya, Ono Hiromi. Ia mengungkapkan bahwa produk unggulan di Provence adalah wassant, dengan dua pilihan filling: krim dan cokelat.

Paduan Jepang-Eropa
Dari sini, kami bergerak ke lantai-lantai berikutnya. Mal yang cukup mewah ini sudah dikunjungi lebih banyak orang, dibanding saat kami baru memasukinya pagi itu. Dari pengamatan kami, di antara mereka ada yang memang ingin berbelanja,  sekadar cuci mata, atau menikmati pengalaman melintas di terowongan bawah tanah yang menghubungkan mal tersebut dengan mal-mal lain di sekitarnya.
     Setelah berkeliling, sampailah kami di gerai Bread Society, di lantai Basement 2.  Interiornya ditata sedemikian rupa hingga terkesan cantik dan anggun. Bakery ini juga menampilkan produk-produk yang secara visual unik, di antaranya Braised Chicken dengan tampilan luar terselubung seperti mie berwarna hitam dengan tinta cumi sebagai bahan pewarnanya. Ada produk yang diberi nama Tandoori Chiecken Naan yang mengadopsi tradisi kuliner India. Ada lagi Red Wine Danish yang bertabur blueberry dan red currant. Dan, yang unik pula, roti berbentuk segiempat serupa roti
tawar namun dengan empat pilihan warna dan citarasa: green tea, susu dengan kismis, wortel dan wijen hitam madu.
     Selain mengembang konsep bakery bergaya Jepang,  Bread Society juga menawarkan roti klasik ala Eropa. Ini merupakan strategi pengelola Bread Society untuk memanfaatkan pangsa pasar roti klasik yang tak digarap oleh bakery-bakery lainnya.
     Anehnya, gerai Bread Society dihadirkan di sebuah mal dengan aksen Jepang yang amat terasa. Di mal ini, hampir semua produk, terutama produk fashion, souvenir,  sampai resto dihadirkan dengan nuansa tradisional dari Negeri Matahari Terbit. Maklum, pengembang Mal ION memang berasal dari Jepang. Ini mengindikasikan pula bahwa pengelola Bread Society meyakini bahwa masyarakat Asia, termasuk Jepang, merupakan pangsa pasar potensial untuk produk roti maupun kue tradisional Eropa. Kemungkinan besar, karena mengonsumsi produk tradisional Eropa membuat masyarakat di kawasan ini merasakan sensasi bergaya hidup modern atau ingin mencitrakan gaya hidup modern mereka.

Lintas Benua
Tanda waktu menunjukkan pukul 4 sore, ketika kami meninggilkan ION Orchad menuju pusat perbelanjaan lainnya, Novena Square. Letaknya hanya 2 stasiun MRT dari Orchad.
    Mal ini tak semegah ION. Tapi karena di sini banyak terdapat bakery shop maupun bakery café, bolehlah menjadi tujuan bakery tour.
    Kalau ION Orchad mengedepankan aksen Jepang, Novena hadir dengan citra ala Korea. Itulah mengapa kebanyakan pengunjung di sini berkebangsaan Korea.
Mal ini juga berada di lokasi strategis, di pusat kota, berdampingan dengan Stasiun MRT Novena, dan relatif dekat dengan Rumah Sakit Tan Tock Seng.
     D Lantai 1, kami menemukan bakery yang namanya unik: Cedele. Ternyata, yang dimaksud Cedele adalah kedelai dalam bahasa Indonesia. Logonya pun merepresentasikan biji kedelai.
     Namun, Cedele menghadirkan produk-produk lintas benua. Termasuk roti klasik, aneka roti manis ala Asia , kukis, cake hingga sandwich dengan aneka pilihan isi. Bisa dikatakan, varian produk yang ditampilkan di bakery ini lebih lengkap dan lebih “nano-nano” dibandingkan di bakery lain pada umumnya. Pengunjung boleh menikmati produk-produk Cedele langsung di gerai berkonsep bakery café ini atau membawanya pulang.
      Apa yang kita petik dari Cedele adalah, Anda harus mengembangkan citra unik pada bakery Anda. Tapi produk yang Anda hadirkan tak harus spesifik. Anda boleh mengetengahkan aneka produk bakery yang sesuai selera segmen-segmen pelanggan Anda.

Ala China
Beranjak dari Cedele yang berlokasi di Novena Square 1, kami berjalan ke Novena Square 2—yang posisinya berdampingan dengan Novena Square 1. Tepat di Lantai 2 Novena Square 2, lagi-lagi kami menemukan bakery yang namanya unik: Bread Bar.
     Ternyata, bakery yang satu ini mengedepankan produk-produk bakery ala China. Di sini kami mendapati you tiau aneka warna. Ada pula butterfly bun dengan toping wijennya. Dan aneka snack tradisional Cina yang laris-manis di Singapura.

Coffee shop
Persis di sebelah Bread Bar, kami melihat bakery lain yang namanya mengundang rasa ingin tahu: Good Coffee Smile. Ternyata, meski secara sekilas tampil seperti bakery-bakery lain yang menghadirkan beberapa varian roti dan cake, gerai ini mengusung konsep coffee shop. 

menghadirkan produk-produk makanan, seperti roti dan cake, sebagai pendamping minuman kopi—untuk melengkapi kenikmatan minum kopi.
     Kedai kopi ini dikembangkan oleh Ueshima Coffe Company (UCC), sebuah perusahaan yang berbasis di Jepang dan mengembangkan jaringan kedai kopi di berbagai lokasi di dunia—termasuk di Jakarta. UCC sudah berumur lebih dari 70 tahun, dan pada awalnya bernama Ueshima Tadao Shoten  yang didirikan pada tahun 1933.

The Royals
Dari sini, kami naik ke lantai 3. Dan dari lift menuju lantai 4, kami membaca papan nama satu bakery lagi: The Royals. Kami pun bergegas menghampiri bakery ini. Karena tanda waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, sementara kami melihat beberapa pramuniaga mulai bersiap menutup toko. 
     Saat kami berada persis di depan gerai The Royals, kami melihat logo Halal. Sekalipun nama gerai ini bernuansa Barat.
      Kami pun mendapati bahwa gerai ini mengedepankan produk-produk bakery ala Eropa. Produk terbarunya antara lain Potato Brioche, Multigrain Loaf dan Walnut Raisin Bread, dan produk andalannya Cranberry Bread. Di sini, Anda juga bisa melihat display wedding cake dan birthday cake. Maklum, The Royals melayani pesanan pembuatan cake untuk pesta pernikahan, ulang tahun, maupun untuk acara pesta-pesta lainnya.
      Tanpa kami sadari, saat kami meninggalkan The Royals, tanda waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Kami pun bergegas meninggalkan mal, menuju Stasiun MRT Novena.
      Di stasiun, sambil menunggu kereta yang akan membawa kami pulang, kami mencoba membuat kesimpulan dari pengalaman kami mengunjungi beberapa bakery di Singapura hari ini. Sekarang, banyak bakery bernuansa tradisional Jepang bermunculan di Singapura dan menjadi trensetter produk-produk bakery di sini. Pada saat yang sama, banyak pula bakery, termasuk bakery ala Jepang, mengusung produk roti maupun kue ala Eropa yang dicitrakan bernilai gizi lebih baik dibandingkan produk-produk roti dan kue ala Asia pada umumnya.
      Tampaknya, bakery-bakery itu memanfaatkan isu gaya hidup modern dan gaya hidup sehat yang sedang bergulir kencang di masyarakat metropolitan.
     Pada saat yang sama pula, mereka mengedepankan citra dari negara tertentu. Tujuannya, meraih segmen pelanggan yang berlatarbelakang kultural dari negara itu. Selain memamerkan pesona kuliner dari negara sebuah, sebagai salah satu daya tarik terhadap pelanggan yang tak berasal dari negara tersebut.