Kisah Paripurna Tentang Kualitas
The Harvest Patissier & Chocolatierpunya konsep menyeluruh tentang kualitas. Dari hulu, sampai ke benak pelanggan.Banyak orang bisa dengan mudah bicara tentang kualitas produknya untuk menarik perhatian pelanggan. Tetapi ketika dihadapkan pada tantangan praktikal tentang bagaimana menjaga kualitas demi meraih loyalitas pelanggan, tinggal segelintir yang masih sanggup “bicara.”
Anda mungkin pernah mendengar outlet food & beverage (FB) yang mengembangkan standar kualitas tinggi pada produk maupun layanannya. Tapi setelah outletnya bertebaran di mana-mana, kualitasnya compang-camping—tak sama antara satu outlet dengan outletnya. Yang terjadi kemudian, loyalitas pelanggan memudar, dan kualitas primanya tinggal kenangan.menggunakan cokelat pada sekitar 90 % varian produknya, terkecualikan dari fenomena itu. Sejak outlet pertamanya dibuka pada 2004, The Harvest kini hadir dengan enam outlet di Jakarta dan Surabaya. Dengan kualitas produk dan pelayanan yang sama antara satu outlet dengan di outlet lainnya.
Dengan target pelanggan kalangan menengah-atas, The Harvest memastikan bahwa semua sajian di outlet ini berkualitas premium. Dan produk F&B berkualitas premium tak mungkin dihasilkan dari bahan berkualitas rendah. Oleh karena itu, The Harvest menggunakan cokelat couvetur. Kandungan lemak cokelat (cocoa butter) dalam cokelat couvetur menghasilkan paduan citarasa dan tekstur smooth. “Cokelat ini meleleh pada suhu tubuh sehingga saat berada di mulut akan meleleh dengan sendirinya—tanpa perlu dikunyah,” tutur Lia Purnomo, Executive Pastry Chef of The Harvest, saat Pastry & Bakery mengunjungi salah satu outletnya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, awal April lalu.
Totalitas The Harvest untuk secara konsisten menggunakan bahan berkualitas prima terefleksikan dari komitmen—yang dituangkan dalam kontrak—dengan suppliernya. Ada jaminan dari supplier bahwa The Harvest akan mendapatkan bahan-bahan yang dipesan sebelum batas waktu yang telah disepakati, dan dengan tingkat kualitas tetap terjaga.
Di sini, perjalanan kualitas berlanjut ke aspek berikutnya: proses produksi. The Harvest melakukan konsep central kitchen, di mana produk yang disajikan di semua outlet diproduksi di satu sentra produksi. Langkah ini memudahkan kontrol atas standar-standar produksi, dan menjamin kualitas produk yang disajikan di semua outlet The Harvest.
Quality control (QC) dilakukan secara berlapis sejak di central kitchen sampai saat produk tiba di outlet dan dipajang di etalase. “Setelah melalui prosedur QC di central kithen, bagian QC di outlet masih

harus memeriksa, misalnya apakah garnish performance-nya masih sesuai standar—tidak rusak—sebelum dipajang di outlet,” jelas Lia Purnomo, yang berkecimpung di bidang pastry sejak 1992.
Di sini, kualitas berpadu dengan kreativitas. Tak semata demi menghasilkan citarasa, performa, dan keunikan produk, tapi juga bagaimana mengemas dan menyajikan produk.
Dari kreativitas, The Harvest meluncurkan produk-produk inovatif setiap periode tertentu. Ini salah satu langkah penting untuk menjaga loyalitas pelanggan. Maklum, konsumen sekarang, terutama dari kalangan menengah-atas, cenderung mencari produk baru atau varian produk baru. Outlet pastry, bakery, maupun cokelat yang tidak mengakomodasi tren ini akan menghadapi risiko ditinggalkan pelanggan.
Soal tampilan outlet tak luput dari sentuhan kreatif. Sang pemilik, Lal de Silva, dalam Seminar ”Peran Desain Interior dalam Usaha Bakery” di Jakarta pertengahan Maret lalu, mengakui bahwa ia memang amat memperhatikan soal penataan interior. Tujuannya, menguatkan positioning The Harvest di benak pelanggan potensialnya. Interiornya ditata sedemikian rupa dan tidak sama antara satu outlet dengan outlet lainnya, untuk memberi “surprise” pada pelanggan. Termasuk dengan tata warna dan tata lampu yang lain dari yang lain—dengan tetap memperhatikan aspek kenyamanan dan citra classy pada setiap outlet.
Lihat juga eksteriornya, jelas ditata sedemikian rupa dengan baliho bergambar artis Dian Sastro sebagai ikon The Harvest. Baliho berukuran relatif besar itu dipasang untuk menarik perhatian calon pelanggan dan sekaligus mengokohkan citra outlet.
Bagaimana The Harvest membawakan produk ke tangan pelanggan, termasuk dengan pelayanan prima dari frontliners-nya, turut menguatkan citra outlet di benak khalayak. “Agar customer merasa lebih nyaman di outlet kami,” tutur Desy Capati, Marketing Manager of The Harvest.
Pengelola The Harvest tampaknya memahami benar bahwa sebagian besar konsumen datang untuk “memanjakan diri” dengan cokelat. Maka The Harvest mencurahkan sentuhan kualitas, kreativitas, dan pelayanan prima untuk memanjakan mereka. P&B (AY/ASTI)