fbpx

Koko Hidayat Jatuh Cinta Dengan Cake

     Sudah bukan hal yang aneh jika seorang Koko Hidayat jatuh cinta dengan dunia baking, karena dari kecil, ia sudah menyukai kegiatan baking. Bahkan dari baking, Koko belajar untuk tak mudah putus asa mengejar mimpi memiliki toko kue terkenal yang menjual kreasi resepnya.

Sebelum dikenal sebagai demonstrator dan baker handal dari PT Smart Tbk, Koko Hidayat muda sudah memiliki ketertarikan dengan dunia baking. “Awalnya sejak masih di bangku SMP, saya sering dimintai membantu Mama untuk membuat kue. Ketertarikan membuat kue, karena kebetulan saya juga sangat menyukai berbagai macam kue,” terang Koko sambil tersenyum. Ketertarikan Koko mencicipi berbagai macam kue, membuatnya makin tertarik mendalami pembuatannya, “Dari icip-icip, lama-lama penasaran juga bagaimana   membuatnya. Lewat Mama, saya bisa mengenal proses produksi kue,” tambah Koko. Berbekal ketertarikannya dengan proses  membuat aneka macam kue, pada saat SMA, Koko mengisi waktu senggangnya dengan mengikuti berbagai macam kursus.

   Walaupun cukup jauh dari kota tempat ia tinggal di Cianjur, Koko tak segan mengikuti kursus membuat kue di Bandung  dan sekitarnya. Setelah lulus SMA, karena kurang menyukai pelajaran hafalan, ia banting stir memilih kuliah yang berhubungan dengan memasak. Koko sempat menjalani kuliah di IKIP jurusan tata boga dengan jalur PMDK selama satu tahun. Karena merasa kurang cocok dengan kurikulumnya, Koko pindah ke Akademi Pariwisata Trisakti. Menimba ilmu di sana, serasa memuaskan Koko. Tentu saja mata pelajaran pastry juga menjadi sumur ilmu pengetahuan yang menjadi incarannya. Tak puas itu saja, ia tetap rajin mengikuti berbagai kursus membuat kue di banyak tempat. Lulus dari Akademi Pariwisata Trisakti, Koko langsung terjun menjadi test baker di sebuah produsen margarin. Dalam perjalanan karirnya, Koko beberapa kali berpindah beberapa perusahaan. Hingga akhirnya sejak tahun 1996, Koko merintis karir di PT Smart Tbk hingga saat ini dan menduduki posisi sebagai Culinary Head Technical Bakery Advisor.

Belajar Dari Kesalahan
        Bermacam produk pastry, roti dan cake ia geluti. Namun Koko jatuh hati dengan produk cake. “Saya ingin menguasai seluk beluk mengenai pembuatan cake. Selain menguasai proses pembuatannya, saya juga menyukai mengutakatik resep cake, juga mengembangkan berbagai variasi dari resep-resep cake untuk menjadi sesuatu produk cake yang berbeda,” ujar pria kelahiran Cianjur ini. Walaupun menggeluti pembuatan cake, Koko sendiri kurang beminat terhadap cake decorating. “Menghias kue itu adalah bakat tersendiri. Berbeda dengan kreasi cake,” jelasnya. Sebelum bisa menjadi seperti ini, Koko juga pernah mengalami hal yang kurang menyenangkan. “Karena awalnya saya bekerja sendiri, harus mempersiapkan resep, menghitung bahan-bahan, hingga membuat hasil jadi untuk icip-icip. Karena terlalu lelah, saya kadang lupa memasukkan bahan. Saya menjadikan kesalahan-kesalahan tersebut menjadi pelajaran di masa depan. Bahkan untuk melakukan demo di bakery-bakery atau customer, saya harus melakukan test oven dulu, karena masing-masing oven memiliki karakteristik yang berbeda, “ kenang Koko. Agar sukses dalam melakukan demo, menurut Koko semua harus dipersiapkan dengan matang. Persiapan dilakukan sejak dari pemilihan resep, bahan-bahan hingga peralatan. Bagi Koko, kelengkapan dari bahan hingga peralatan bisa mendorong rasa percaya diri. Proses belajar dari kesalahan buat Koko adalah guru yang paling baik.

            “Karena kita bisa memperbaiki diri dari kesalahan yang sudah pernah kita buat. Ilmu tidak pernah bisa kita serap dengan baik kalau kita tak pernah mencoba dan melakukan kesalahan,” terang Koko yang ditemui Pastry&Bakery di kantornya. Lanjutnya lagi, “Melalui kesalahan kita juga harus bisa terpacu agar menjadi lebih baik. Harus segera bangkit, jangan berlama-lama menyesali kesalahan yang pernah kita buat. Bahkan, dari kesalahan, kita jadi makin pintar. Terutama untuk para demonstrator, melakukan kesalahan bisa dijadikan nilai tambah. Karena saat melakukan demo, ada saja pertanyaan dari peserta misalnya kenapa roti tidak mengembang atau cake yang bantat. Nah, kalau kita tidak pernah melakukan kesalahan, sebagai demonstrator tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.” Sebagai seorang demonstrator, Koko mengakui bahwa kerap merasa bangga kala kreasinya bisa menginspirasi bagi peserta, “Saya senang jika pada saat memberikan materi untuk kursus atau demo, resep-resep yang saya bawakan bisa menjadi inspirasi bagi peserta. Terutama inspirasi untuk bisa menambah daya jual produk, atau bisa menampilkan produk baru untuk bakery-nya. Rasanya bangga, karena ilmu yang kita bagi bisa diterapkan,” ujarnya. Koko rutin mengajar di berbagai tempat kursus, selain melakukan demo-demo untuk customer PT Smart Tbk. Baginya, mengajar untuk memicu berkreasi, mengasah otak, cermat melihat tren, juga dituntut untuk bisa kreatif dalam mengolah bahan-bahan. ”Kadang-kadang pada saat demo, dari peserta bertanya mengenai sesuatu bahan. Jadi sebelumnya selain melakukan praktek, membaca berbagai buku-buku, kita juga harus rajin mengeksplorasi bahan,” kata pria yang berulang tahun tiap 1 Juni ini.

Mengasah Keterampilan
        Sumber pengetahuan bagi Koko tak hanya dari mengikuti berbagai kursus di luar negeri, tapi juga rajin menilik resep-resep dari bukubuku, tambahnya, “Melakukan kreasi atau bereksperimen untuk menghasilkan produk yang berbeda dan memiliki nilai jual.” Cara lain Koko untuk memancing inspirasi, kalau jenuh ia kerap meluangkan waktu untuk jalan-jalan ke mall, selain itu juga rajin mempelajari lewat buku-buku impor maupun buku-buku karya orang lain. “Kita dituntut, apakah bisa menghasilkan karya yang lebih bagus dari mereka,” ujarnya. Mengikuti lomba juga salah satu cara Koko mengasah keterampilan, karena menguji nyali bersaing dengan pemula maupun senior. “Selain meningkatkan percaya diri dengan mengikuti berbagai lomba, hadiah-hadiah yang disediakan peyelenggara menjadi tantangan tersendiri, karena biasanya hadiahnya cukup menarik seperti jalan-jalan dan belajar di luar negeri, mengunjungi pabrik tepung di luar negeri dan sebagainya,” terang Koko. Buat Koko, dalam mempersiapkan mengikuti kompetisi tidaklah sederhana. Ia harus mempersiapkan resepresep andalan. “Biasanya disediakan basic recipe, lalu saya harus memodifi kasi resep.
         Untuk memperoleh resep yang tepat tidak bisa diciptakan dalam satu kali. Harus melalui beberapa kali percobaan untuk memperoleh resep yang handal. Untuk memperoleh resep yang memiliki ciri khas, tidak mungkin melakukan copy-paste saja dari sebuah sebuah resep,” terang pria penyuka bakso dan asinan ini. Cake andalan Koko Hidayat adalah cake yang memiliki nilai jual, tak sulit untuk diaplikasikan, misalnya saja bolu gulung atau cake kukus. “Kalau ada kesempatan bisa bertemu dengan sesama baker atau demonstrator, saya suka saling bertukar ilmu atau tukar tips mengenai masalah baking. Bahkan dengan sesama technical baker dari perusahaan kompetitor, saya tidak melihat sebagai pesaing, namun bisa dijadikan teman, dan memberikan spirit agar bisa menciptakan karya yang lebih baik. Mengkritik boleh, tapi kita juga ditantang untuk bisa menghasilkan karya yang lebih bagus,” ujar Koko. “Bahkan pada saat melakukan demo di bakery-bakery, saya melihat teknik dari baker di bakery tersebut beda dengan yang biasa saya lakukan, saya tak segan bertanya dan belajar. Keinginan belajar yang tinggi juga merupakan wujud keinginannya untuk membangun bisnis bakery atau toko kue yang menjual kreasi resep cake gubahan Koko. “Sayangnya saya masih belum ada waktu dan tenaga. Karena bisnis ini tidak bisa main-main,” terangnya.

Hobi Wisata Kuliner
          Koko sendiri sampai saat ini menyukai pekerjaannya sebagai technical baker. “Karir sebagai technical baker memungkinkan saya bisa jalan-jalan ke berbagai kota hingga luar negeri. Dengan pekerjaan ini, hobi wisata kuliner jadi bisa tersalurkan,” ujarnya sambil tergelak. Bahkan demi menunjang hobinya, jika Koko berada di Jakarta, ia sangat pemilih untuk asupan makanan sehari-hari seperti seafood atau makanan yang mengandung kolesterol. “Saat saya di luar kota, mau tak mau saya menerima undangan jamuan dari teman atau kolega. Saya tak mau mengecewakan mereka dengan menolak undangan tersebut. Jadi makanan apapun bisa saya nikmati. Kebalikkannya pada saat di Jakarta, saya benar-benar menjaga asupan makanan,” ujarnya. Untuk menjaga stamina tubuh saat melakukan demo, Koko mengaku selalu rajin minum air putih dan sarapan pada pagi hari. “Dalam melakukan demo saya harus berdiri minimal 10 jam. Jadi badan harus kuat. Makanya saya selalu sarapan dan selalu minum air putih saja. Sarapan merupakan bekal, jadi seandainya dalam melakukan demo waktunya molor, saya tidak kehabisan tenaga,” jelasnya.