fbpx

Pastry Passion-Hong Kong Belajar Sekaligus Refreshing

Kursus pastry yang dikemas dengan hiburan agaknya bisa jadi inspirasi untuk menggairahkan dunia pastry di saat ini. Seperti yang dilakukan oleh Pastry Passion di Hong Kong, seperti apa rahasianya? Siapa tahu bisa menjadikan inspirasi untuk Anda untuk mengembangkan bisnis  di Indonesia.

“Wah nanti kue pengantin kita apa seperti ini ya?” bisik Henry sambil melirik Leung. Di ruangan lainnya nampak seorang ibu dan putrinya juga tengah asyik menghias cake dengan gula dan krim beraneka warna. Nampak asyik, dan penuh konsentrasi seolah tengah berkompetisi menghasilkan kreasi terbaik. Sesekali terdengar celoteh dari para peserta.Ya, suasana itu menjadi bagian yang tidak terlepas dari Pastry Passion-Hong Kong, sebuah tempat kursus pastry yang ada di Hong Kong, persisnya di 7-8 room, 17/F, Metro Centre I, 32 Lam Hing Street, Kowloon Bay.

Menurut Patrick Kuok, Manager Operasional Pastry Passion mengungkapkan tempat ini sengaja disediakan untuk membuat sebuah kursus yang berbeda dengan tempat yang sudah ada. Kepada Pastry and Bakery, Patrick mengungkapkan bahwa selama ini di Hong Kong maupun di beberapa negara lain seperti Singapura, RRC maupun Jepang bahwa bisnis tempat pelatihan sejenis memang cukup menjanjikan memberikan keuntungan.

 Namun berdasarkan pengamatannya, kebanyakan kursus tersebut  menyediakan kelas baking dan cooking. Sehingga konsentrasi untuk menghasilkan alumni yang benar-benar canggih di dunia pastry masih belum maksimal. Selain itu, kebanyakan pula tempat kursus tersebut mirip suasana tutorial di dalam kelas yang tegang, kaku dan tidak ada interaksi yang santai antar instruktur maupun siswa.

Patrick sendiri mengaku pernah punya pengalaman seperti itu. Ketika berada di China beberapa waktu lalu untuk mengikuti kursus membuat kue, dia mengaku bosan karena suasana kursus yang terkesan kaku. Akibatnya, dia dan beberapa peserta lainnya mengaku tidak bisa maksimal ketika menerima materi kursus. “Berdasarkan pengamatan di lapangan yang seperti itu, kami mencoba membuat  Pastry Passion berbeda dari tempat kursus yang sudah pernah  ada. Artinya tidak terlalu monoton dan kaku. Jawabannya bisa Anda rasakan sendiri ketika berada di tempat ini bukan?” papar Patrick sambil mengantar Pastry and Bakery berkeliling.

 

Buka Sampai Tengah Malam

 

Meski tidak terlalu mewah karena letaknya di dekat kawasan pelabuhan, namun rasa keakraban tak tertutup oleh kesederhanaan itu. Saat berkunjung ke sana, awal Juni silam,  beberapa murid yang datang dari berbagai lapisan usia, mulai yang paling tua antara 50-60 tahunan sampai yang belum genap 10 tahun, nampak asyik dengan kreasi pastry-nya. Tentu saja, masing-masing dari mereka punya alasan tersendiri untuk bergabung di Pastry Passion. “Saya ingin mengisi hari tua saya dengan sesuatu yang berguna. Saya tidak mungkin membuka toko kue, namun setidaknya bisa menyediakan kue-kue yang lezat ketika anak dan cucu  datang ke rumah. Senang sekali saya ada di sini,” ungkap Chun Hung Mi salah satu peserta yang masih tetap energik menghias cake di usianya ke 58 tahun.

Untuk menambah kesan akrab, setiap ruangan dibuat tanpa sekat. Sehingga mereka bisa saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Dengan suasana yang bersahabat itulah, Pastry Passion berharap kursus aneka pastry bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan, dan tidak membosankan. “Apalagi pada dasarnya memasak adalah hobi yang menyenangkan, sama seperti hobi-hobi yang lainnya. Bahkan bila ditekuni dengan serius, mereka bisa mendatangkan keuntungan bila menjadikan ini sebagai lahan bisnis baru,” ungkap Patrick sambil menyebut sampai saat ini jumlah muridnya telah mencapai 300-an orang, yang tersebar dalam berbagai waktu kursus.

Keberhasilan ini tentu saja hasil buah kerja keras selama 3 tahun. Pastry Passion telah  sukses ‘mengemas’ para pecinta pastry untuk mempelajari segala hal tentang dunia ini. Untuk  membuat Pastry Passion lebih membumi di semua kalangan, harga kursusnya juga dibuat cukup terjangkau antara HK$ 280 sampai HK$ 850 untuk kursus selama  5 minggu (1 HK$ sekitar Rp 1.170).

Lamanya waktu kursus juga cukup bervariasi, dimulai jam 9 pagi hingga jam 12 malam. Diluar kebiasaan tempat-tempat kursus baking-cooking, tidak ada yang menyediakan waktu kursus hingga tengah malam seperti halnya Pastry Passion. Agaknya inilah yang mungkin menjadi salah daya tarik Pastry Passion. Ternyata dengan membuka kursus sore hari, tempat ini sukses mengambil pangsa pasar para pegawai yang baru saja pulang kantor. Kebetulan daerah Kowloon Bay dan sekitarnya adalah kawasan industri, sehingga banyak pegawai yang pulang kantor namun mencari sesuatu yang lain. “Awalnya kami mencoba sesuatu, apakah ada kursus yang diminati malam hari. Ternyata pelanggannya juga cukup banyak. Mereka kebanyakan adalah para pegawai di sekitar tempat ini, ataupun para mahasiswa yang ingin belajar pastry,” papar Patrick.

Agaknya trik ini cukup sukses mendapat banyak simpati. Chan Kei Chi, salah satu peserta kursus yang sengaja datang sore hari mengaku banyak terbantu dengan tersedianya jadwal ini. Di Hong Kong University, dia mempelajari ilmu manajemen, namun dia juga ingin belajar dunia pastry. Karena setelah lulus kuliah dia ingin membuka sebuah toko kue. “Karena saya dari pagi hingga siang sudah sibuk kuliah. Namun saya juga ingin belajar dunia pastry. Apalagi tidak banyak tempat kursus yang buka sampai malam,” katanya sambil asyik menghias cake.

 

Mempererat Hubungan Orangtua-Anak

 

Dari cerita Patrick juga diketahui salah satu kunci sukses dari Pastry Passion adalah membuat proses belajar pastry tak ubahnya seperti rekreasi. Salah satunya lewat paket DIY (Do It Yourself). Setiap hari Sabtu dan Minggu mereka telah memiliki program khusus untuk menduetkan antara orang tua dengan anak  untuk program-program tertentu. Misalnya kursus membuat puff pastry, menghias cupcake atau sesuatu yang mudah, namun bisa menambah keakraban saat liburan.

Hasilnya ternyata cukup maksimal. Dalam setiap session tersebut bisa diikuti antara 7-14 pasang peserta. Biayanya juga tidak mahal, antara HK$ 260 – HK$ 320. Jadwal waktunya juga bervariasi, antara 10.30 pagi hingga  16.30 sore. Agar suasana tidak tegang, sering pula audio tempat ini terdengar beberapa musik yang terdengar dinamis. Saat Pastry&Bakery berkunjung ke sana, sempat terdengar lagu-lagu milik Kylie Minogue. Konon musik dinamis bisa memacu semangat.

 “Kami sengaja membuat program yang mudah sehingga bisa diikuti oleh anak dan orang tua. Hasilnya memasak kini bukan hanya monopoli anak perempuan, tapi anak laki-laki dan ayahnya atau juga ibunya,” imbuh Patrick yang mengaku, gara-gara program ini, beberapa kursus serupa di Hong Kong juga membuka kelas serupa.

Begitu juga bila menjelang hari-hari besar seperti Valentine,  Natal maupun Imlek, maka Pastry Passion juga menyediakan berbagai cake yang khas dengan momen spesial itu.

 Peran instruktur juga tidak kalah penting agar mampu menjaga ‘suhu’ selama proses belajar mengajar. Para instruktur yang sebagaian besar dari para praktisi hotel/catering maupun ahli pastry dari Hong Kong wajib mematuhi cetak biru dari para board director, antara lain: mampu mengajar materi yang baik dengan cara pengajaran yang santai namun serius. Bisa menjadi sahabat bagi para murid agar materi pembelajaran terasa menyenangkan serta bersedia mengajar malam hari.

 “Karena tidak semua chef bisa menjadi pengajar, untuk itu kami harus tahu betul soal itu. Mengingat persaingan antar lembaga kursus di sini cukup tinggi. Namun kami selalu berinovasi dan hasilnya tetap bisa mendapatkan banyak murid,” pungkas Patrick.

@Pastry&Bakery/Rio Chan, foto-foto : Rio Chan