fbpx

Membidik Pasar Lewat Cokelat Rumahan

 Industri cokelat rumahan terus menunjukkan trend positif. Bahkan di Eropa, industri ini sukses menjadi penggerak ekonomi yang signifikan, asal tahu bagaimana trik suksesnya

Popularitas cokelat-cokelat dari Eropa memang cukup merajai pasar cokelat tanah air hingga asia. Lihat saja, merek-merek terkemuka macam Godiva, Venchi, Lindt, Cote d’Or, Valor, Amano, Domori dan sebagainya adalah bukti ketangguhan cokelat-cokelat industri dari Eropa. Padahal tak banyak yang tahu, bahwa di Eropa sendiri industri cokelat ala rumahan sukses menjadi penggerak ekonomi yang tidak bisa dianggap remeh. Inilah khusus dari Chocolate World, salah satu kampiun produsen cokelat di Eropa yang sukses menjadi pemasok cokelat-cokelat papan atas Eropa. Hal ini tentu saja bukan isapan jempol semata.

       Dalam ajang HOFEX yang diadakan di Hong Kong belum lama ini, Chocolate world perusahaan penyedia perlatan dan bahan-bahan pembuat cokelat sempat mencuri perhatian dalam pameran tersebut.“Selepas ajang HOFEX kami banyak mendapat banyak surat elektronik dari berbagai peserta asia, termasuk Indonesia yang ingin bertanya bagaimana caranya membuka industri cokelat rumahan namun punya ciri khas khusus,” papar Filip Buenelens,International Marketing Director Chocolate World menjawab pertanyaan Pastry&Bakery.

     Untuk menjawab surat yang diterima secara satu per satu bukan hal yang mudah. Untuk itulah, melalui Pastry&Bakery, Filip memberi secuil bocoran tentang industri cokelat yang tengah naik daun di Eropa. Chocolate World sendiri memang telah lebih dari 25 tahun menjadi pemasok peralatan dan bahan baku cokelat ke beberapa produsen. Dia mengakui, bahwa popularitas cokelat-cokelat dari Eropa memang tidak perlu diragukan lagi. Beberapa merek terkemuka sudah merajai di berbagai pasar maupun pelanggan cokelat.

     Tumbuhnya Cokelat Rumahan “Dalam kondisi seperti ini, banyak pelanggan yang mengasumsikan bahwa cokelat yang baik adalah produksi dari pabrik. Cokelat buatan rumahan menjadi chocolate World Association juga mengamati, bahwa trend cokelat rumahan akan terus menggeliat. Tak hanya di Eropa, tapi juga di asia sebagai produsen cokelat terbesar di dunia. Sayangnya, khusus untuk wilayah asia, perkembangan cokelat rumahan masih dinilai kurang ‘menggigit’. “Istilahnya sekedar membuat cokelat, dijual, laku dan begitu begitu saja. Padahal bila diberi sentuhan yang lebih berseni, bisa menjadi bisnis yang cukup menguntukan,” imbuhnya sambil menyebut cokelat rumahan cukup diminati oleh warga lokal eropa maupun wisatawan, termasuk dari Asia.


     Mengapa hal ini lebih menarik? Ternyata ada jawabannya. Pasalnya, dengan cokelat a la rumahan, pelanggan bisa mendapatkan komposisi cokelat yang sesuai dengan rasa dan keinginannya. Selain itu, memamerkan keahlian professional chocolate artist yang membuat aneka kreasi cokelat adalah nilai jual tersendiri. Walaupun itu butuh investasi SDM yang tidak sedikit, namun bila ditekuni bisa menjadi selling point yang kuat untuk sebuah toko. “Prinsipnya begini, orang membeli cokelat di manapun sama saja, maupun bentuk atau rasa. Tapi kalau membuat cokelat yang customized, dengan rasa yang berbeda karena komposisi cokelat. Konsep ini booming di Eropa,” tegas Filip Buenelens.

     Bahkan, dari catatan Filip menyebut dari 2008 sampai akhir 2011, khusus di Antwerpen sebagai salah satu kota cokelat Belgia dan Eropa sudah tumbuh 300 usaha cokelat ala rumahan, dari awalnya yang hanya sekitar 75 pengusaha cokelat rumahan saja. Hebatnya lagi, yang cukup diacungi cokelat kelas dua. Padahal itu sebenarnya tidak betul. Mengingat kami memiliki banyak kerja sama dengan rumah-rumah cokelat yang didirikan oleh para professional chocolate artist,” papar Filip tentang kerja sama tersebut.

     Dengan kerja sama itu, kontribusi sekaligus simbiosis saling menguntungkan terjalin dengan erat diantara Chocolate World serta para rumah cokelat binaanya. Filip yang juga anggota European Chocolate World Association, kumpulan para chocolatier menyebut trend cokelat rumahan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Meski dari segi bisnis sulit untuk mengalahkan skala pabrik, namun dari segi resiko maupun modal bisa dilakukan kapan saja dan oleh siapapun. European jempol, para wisatawan Asia yang mencari cokelat ala rumahan ternyata tidak mencarinya di negara asalnya. Namun ke beberapa negara Eropa. “Nah mengapa konsep cokelat rumahan yang elegan tidak dibuat di Asia,” imbuhnya.